Jumat, 04 Januari 2019

DRAMA MENYAPIH

Sebagai seorang ibu, saya juga ingin mempersembahkan yang terbaik untuk anak. Termasuk asi selama dua tahun. Kalau dulu, masalahnya adalah mengajarkan bocah gimana cara menghisap asi, sekarang masalahnya how to stop it. Hua hua ... susah, asli! Lebih susah dari harus melek tengah malem, duduk sambil nyusuin bocah. Kenapa? Karena dulu ribet untuk memberi, sedangkan menyapih itu untuk mengambil. Trust me!! Nggak tega tapi harus. Biar gimanapun, dia harus belajar! Semangat, Nak. Kamu juarak! Ahirnya berhasil sapih di usia 23 bulan lebih berapa hari ya? hmm hmm lupa. -_-
Nggak masalah lah lupa tanggal sukses sapihnya, yang penting nggak lupa mau berbagi tips menyapih ala saya. Hehehee... Ok, here we go!!
Jauh sebelum Arte, genap 2 tahun, sekira 1 tahunan, saya mulai sering melakukan sounding bahwa nanti kalau dia sudah dua tahun dia harus berhenti menyusu. Saya tahu dia paham karena ekspresinya berubah tiap saya mengatakan itu. Ritual sounding ini lebih intens saat usianya hampir dua.
Berhubung saya belum menemukan sinyal ikhlas dari si bocah, jadilah saya memulai prosesnya dengan step by step. Saya kurangi masa menyusuinya. Mulanya, pagi dan siang dia tidak boleh menyusu. Anaknya nurut? Ya jelas demo! Untungnya kalau siang dia lebih mudah dialihkan. jadi setiap dia minta saya alihkan. Misalnya, tawarkan cemilan kesukaannya, mainan kesukaan, baca buku, berendem di bak siang-siang -_-, nonton didi and friends, dsb. Intinya pinter-pinternya kita mengalihkan. Inget ya, selama proses ini tetap ingatkan dia kalau siang hari bukan waktunya menyusu karena dia sudah dua tahun.

Oya, catatan penting ya mak. Selama proses sapih jangaaaan pernah memakai baju yang berritsleting depan atau berkerah rendah. Intinya jangan sampai dia melihat dan mengingatkannya untuk menyusu. Kalau bisa pakai baju yang susah dibuka bagian dadanya deh.
Masuk usia 23 bulan, saya sudah gusar. Ya, karena sudah mulai diprotes mbah-mbahnya, kenapa bocah masih menyusu? Kenapa tidak pakai senjata seperti dioles sesuatu yang pahit, dikasih merah-merah, dsb. Hmm, bukan nggak mau sih tetapi aku percaya proses. Nggak suka cara-cara instan. *Belagak wow, wkwkwk.
Biar nyesek tapi protes dari para mbah-mbah ada baiknya juga. Buktinya saya langsung eksekusi menyapih utuh 24 jam. -_- tapi dramanya lebih. Kalau siang, bocah bisa dialihkan dengan hal lain, saat tidur pun lebih mudah (entah kenapa), sedangkan waktu malam mau dialihkan bagaimana? i have no idea hua huaaaa.
Jadilah saya coba menggendong, mengayun, memijat, mengusap dan menepuk-nepuk si bocah yang kekeh berontak. Jam tidur pun jadi super kacau. Malam tidur jam 12 malam, bangun jam 8 pagi dan tidur siang bergeser jadi tidur sore. Tapi itu nggak seberapa lelahnya dibandingkan dengerin dia demo demi emaknya luluh. Nangis tiap malem disuruh tidur. Ya Allahhh.... Sampai saya doa khusus biar dia ikhlas disapih. 
Finally, Allah beri petunjuk. Saya lupa baca blog siapa. Intinya libatkan suami. Ahirnya malam hari si bocah tidur sama suami. Dua malam berhasil lalu dicoba tidur dengan saya dan berhasil. :) Etapiiii, hari berikutnya doi demo lagi. -_- Digendong, diapain nggak mempan.
And.... Saya menyadari mungkin saya sendiri belum ikhlas. Btw, menyusui itu nggak cuma nyaman buat bocah loh, buat emaknya juga. Mungkin saya juga belum seratus persen rela kehilangan rasa nyaman itu. Jadi, saya coba ikhlas dulu, mulai memikirkan manfaat disapih untuk dia. Fokus kesana.
Saya juga menyadari bahwa untuk membuat dia ikhlas kita mengambil "zona ternyaman"nya adalah dengan menukar dengan hal lain yang sama nyamannya. Jadi, saya putuskan untuk berusaha menunjukan bahwa i still love you, and will always do. Lebih perhatian, jarangin buka gadget sambil terus sounding bahwa saya sayang kamu dan tetap bersama kamu, yang berbeda hanya kamu tidak lagi emeh. 
:)

Buat pejuang sapih, semoga berhasil dan semangat berproses. Percaya saja, ini bagian dari mengajarinya ikhlas, berjuang keluar dari zona nyaman dan mengajari anak percaya pada kita, orang tuanya khushushan emaknya. :p




Tidak ada komentar:

Posting Komentar