PART 1
Pagi yang sama, mendung yang mana bukan penanda hujan akan turun. Shina membuka pintu, diapitnya perkakas kebersihan di kedua tangannya. Dengan hidung tertutup masker hitam, ia mengusir debu dan serakan sampah. Tangannya bergerak lincah.
Selesai satu pekerjaan, dia melanjutkan pekerjaan lainnya; menyiram bunga, mencuci piring dan pakaian kotor, membuat sarapan untuk dia dan Hans serta membaca berita. Ah ya, ada tambahan daftar pekerjaan pagi ini, membawa Hans ke klinik dokter Bimar.
Aaaaaa..
Lagi, Hans mengerang kesakitan. Suaranya parau dan penuh penekanan. Shina menahan air matanya. Tidak tega rasanya mendengar Hans menahan luka separah itu. Tubuhnya penuh luka, entah racun apa yang menyerangnya. Hans lelaki kuat, kalimat itulah yang selalu meyakinkan Shina untuk tetap percaya suaminya akan tetap baik-baik saja.
Aaaaaaa...
Suaranya serak, membuat ngilu hati yang mendengarnya. Wanita itu bergegas membawakan sarapan dan beberapa kapsul terakhir. Langkahnya cepat menaiki satu demi satu anak tangga tetapi tetap dia berhati-hati menjaga keseimbangan. Tangga ini tidak memiliki pagar pembatas di sisinya. Membetulkan tangga bukan pekerjaan yang penting di situasi begini.
Pintu berderit. Hans melengos, selalu begitu. Di sudut hatinya dia marah pada dirinya sendiri. Apa yang dapat diandalkan darinya? Hanya lelaki cacat yang berharap dia mati saja saat itu. Dulu dia menjanjikan kebahagiaan untuk Shina, kekasihnya, sekarang bahkan dia tidak mampu mengurus dirinya.
Hati-hati shina duduk di tepi ranjang. Sesungguhnya, memandangi tubuh Hans yang mirip mumi, dia merasa sakit. Namun, jauh berkali lebih sakit melihat Hans tidak lagi bicara padanya. Tidak ada sapaan hangat, cerita humor yang konyol demi mengusir kesedihan atau dekapan tubuh lelaki itu.
"Aku membuatkan sup jamur dengan campuran kacang dan kentang."
Shina mencoba memecah keheningan. Ingin rasanya dia memaki Hans, meneriaki lelaki yang tidak tahu diri mendiamkannya. Sudah lelah rasanya dia mengatakan pada Hans, tidak ada yang berubah baginya, cintanya tidak pernah menuntut kesempurnaan fisik atau materi apapun. Beku. Hans diam seperti kehilangan kata.
Bulir bening tertahan di ujung manik mantan tentara itu. Shina mengusap pelan ujung jari tengah Hans dengan jari manis, tempat selingkar cincin emas berukir huruf H menggantung.
"Hans, nanti kita akan menemui dokter. Obatmu habis dan perbanmu harus diganti." Tak ada jawaban. Pria itu bergerak sedikit pun tidak. Hanya sepasang ain berbola kecokelatan dengan kelopak bergaris tajam yang semakin basah.
Shina bangkit, membiarkan Hans dengan kekalutan perasaannya sendiri. Lagi pula, suaminya tidak akan mau memakan sup itu dari tangannya. Dulu, dia sangat suka bila Shina memanjakannya, merengek meminta Hans yang sibuk untuk memakan sup buatannya sampai Hans menyerah. Dia akan duduk di depan Shina yang pura-pura marah, membuka mulut dan menunggu kekasihnya menyendokkan makanan.
"Shina..."
Seseorang memanggil setelah menyandarkan kendaraan besi yang melaju dengan bahan bakar panas, air dan angin. Seorang wanita tua dengan tudung kepala yang diikat asal mengetuk. Shina membukakan pintu dan segera menghambur ke pelukan Sarah. Gadis itu menjatuhkan keranjang berisi bahan pangan di lantai, membiarkan tubuh Shina jatuh dalam pelukannya. Kehadiran Sarah selalu berarti, bendungan air mata Shina seakan menemukan jalannya di bahu Sarah, kakak sepupu Hans. Puas dia menangis.
"Apa belum ada perkembangan?" tanya Sarah dengan suara pelan. Pertanyaan yang dia sudah tahu jawabannya. Shina menggeleng lemah dan menghapus habis air yang tadi dibiarkannya mengalir begitu saja.
"Kamu harus kuat," dahi Sarah tertekuk, "aku dengar negara adidaya sudah kewalahan, kemungkinan mereka akan membuat semacam kompromi dengan makhluk asing itu. Semoga pada akhirnya kehidupan kembali penuh damai dan mereka lekas pulang ke tempatnya. Semoga." Sarah memberi penekanan pada kata terakhir dengan mata terpejam dan sungguh-sungguh dari hatinya.
Doa yang sama dipanjatkan pula oleh Shina. Tidak ada yang menginginkan ini. Hidup dalam ketakutan. Menyerah atau melawan rasanya sama-sama melelahkan. Namun, bagi Shina, dia tidak pernah ragu untuk tetap bertahan, bahkan semisal dunia ini memilih menyerah.
Tangan Sarah mengelus lengan sepupu iparnya, memberi kekuatan. "Pimpinan Rusia kudengar sudah menyerah. Terakhir kulihat matanya memang sudah bercahaya." Suara Sarah berbisik dengan raut sedih yang tak mampu disembunyikannya.
Mata bercahaya adalah sebuah tanda jika seseorang sudah takluk. Entah bagaimana tetapi mata mereka selalu begitu, tidak lagi tampak kelopak dan bola mata berwarna. Mata itu seperti kosong dengan cahaya putih terang berpendar. Jika sudah begitu, tidak kau temukan lagi gelak tawa, hanya ada tubuh kaku yang seolah kehilangan ruhnya.
Shina menghela nafas. Entah sampai kapan ini semua berakhir. Bagaimana mungkin manusia bisa seceroboh itu membiarkan lapisan ozon bumi rusak parah, menjadi gerbang pertama makhluk asing datang. Terakhir, penerbitan satelit super elit yang mereka wacanakan sebagai peradaban baru. Nyatanya, justru mengundang musuh, makhluk-makhluk lain yang juga berakal dengan mata seperti cahaya lampu.
Satelit itu, sudah lama generasi Shina mengenalnya. Sejak kecil. Media mengatakan dunia tidak akan kekurangan lahan lagi. Semua benda dapat dengan mudah disimpan menjadi data dan kembali menjadi benda, manusia melakukan perjalanan tanpa transportasi, mereka seperti menghilang.
Shina masih ingat, di tengah kota tempat tinggalnya dia melihat kotak yang akan menjadi semacam halte tujuan. Manusia akan tiba-tiba muncul disana jika tujuan mereka ke kota ini. Kotak yang sangat ajaib, pikirnya dulu.
Peradaban bullshit! Shina memaki dalam hati. Apa yang dia lihat kini hanya langit kelabu, udara yang asam dan tanah yang mengeras, gersang. Beberapa orang mulai mencari kunci peradaban yang hilang, Hans dan Shina salah duanya. Mereka ikut terlibat dalam proyek itu tapi Hans tiba-tiba memilih jalan lain.
Dia ikut bertempur, tanpa memperhitungkan kekuatan musuh. Nalurinya sebagai tentara memanggilnya, dia tidak peduli sikap Shina yang menentang. Beruntung atau justru sial, Hans selamat dan dia adalah satu-satunya yang selamat dalam insiden pemberontakan itu.
Ngguuuuung.....
Terdengar suara dengungan keras dan bau yang menyengat. Shina dan Sarah bertatapan. Pulau ini terdeteksi. Wajah mereka pias. Sarah segera mengenakan masker begitu juga Shina. Ada riuh tangis dan ketakutan terdengar. Mereka menghambur keluar dengan tergopoh. Tangan Sarah gemetar, dia menjerit seperti jeritan orang-orang itu. Shina terdiam, mematung. Bulir-bulir air matanya jatuh, dilihatnya benda pipih sangat besar melayang di atas sana. Dia merasa linglung. Sarah menarik tangan Shina kasar.
"Lari! Lari!" Sarah berteriak.
Mereka bersama manusia lainnya ikut berlari menuju bangker. Semakin lama suara dengungan semakin keras, tampak sesuatu menyala di atas sana. Tiba-tiba langkah Shina berhenti. Dia teringat Hans. Sarah yang menyadari hal itu, cepat-cepat meraih tangan Shina. Wanita itu menangkis.
"Hans!" Shina menangis.
"Tidak ada waktu!" Bentak Sarah.
Shina berlari kembali menuju rumahnya. Sarah menyerah. Dia membiarkan Shina pergi. Air mata menetes lolos dari kedua manik Shina. Takut, cemas dan marah menjadi satu. Bayangan-bayangan kebersamaannya bersama Hans seperti berputar-putar di kepala tanpa sedetik pun jeda. Dia ketakutan, takut sesuatu yang buruk terjadi pada prianya.
Tubuh Shina bertabrakan dengan orang yang lari berlawanan arah. Tak ada yang peduli. Shina terus berlari sekuat tenaganya hingga tiba-tiba tubuhnya limbung, dia merasa sangat pusing. Wanita itu jatuh berlutut, perlahan pandangannya mulai kabur. Kepalanya terasa berat.
Bayangan wajah Hans masih tergambar jelas, ketika sebuah tangan menarik pundaknya. Pandangan Shina semakin kabur. Dia melihat seseorang.
"Hanss...!"
***bersambung***
#AyuNurfiyah
Pagi yang sama, mendung yang mana bukan penanda hujan akan turun. Shina membuka pintu, diapitnya perkakas kebersihan di kedua tangannya. Dengan hidung tertutup masker hitam, ia mengusir debu dan serakan sampah. Tangannya bergerak lincah.
Selesai satu pekerjaan, dia melanjutkan pekerjaan lainnya; menyiram bunga, mencuci piring dan pakaian kotor, membuat sarapan untuk dia dan Hans serta membaca berita. Ah ya, ada tambahan daftar pekerjaan pagi ini, membawa Hans ke klinik dokter Bimar.
Aaaaaa..
Lagi, Hans mengerang kesakitan. Suaranya parau dan penuh penekanan. Shina menahan air matanya. Tidak tega rasanya mendengar Hans menahan luka separah itu. Tubuhnya penuh luka, entah racun apa yang menyerangnya. Hans lelaki kuat, kalimat itulah yang selalu meyakinkan Shina untuk tetap percaya suaminya akan tetap baik-baik saja.
Aaaaaaa...
Suaranya serak, membuat ngilu hati yang mendengarnya. Wanita itu bergegas membawakan sarapan dan beberapa kapsul terakhir. Langkahnya cepat menaiki satu demi satu anak tangga tetapi tetap dia berhati-hati menjaga keseimbangan. Tangga ini tidak memiliki pagar pembatas di sisinya. Membetulkan tangga bukan pekerjaan yang penting di situasi begini.
Pintu berderit. Hans melengos, selalu begitu. Di sudut hatinya dia marah pada dirinya sendiri. Apa yang dapat diandalkan darinya? Hanya lelaki cacat yang berharap dia mati saja saat itu. Dulu dia menjanjikan kebahagiaan untuk Shina, kekasihnya, sekarang bahkan dia tidak mampu mengurus dirinya.
Hati-hati shina duduk di tepi ranjang. Sesungguhnya, memandangi tubuh Hans yang mirip mumi, dia merasa sakit. Namun, jauh berkali lebih sakit melihat Hans tidak lagi bicara padanya. Tidak ada sapaan hangat, cerita humor yang konyol demi mengusir kesedihan atau dekapan tubuh lelaki itu.
"Aku membuatkan sup jamur dengan campuran kacang dan kentang."
Shina mencoba memecah keheningan. Ingin rasanya dia memaki Hans, meneriaki lelaki yang tidak tahu diri mendiamkannya. Sudah lelah rasanya dia mengatakan pada Hans, tidak ada yang berubah baginya, cintanya tidak pernah menuntut kesempurnaan fisik atau materi apapun. Beku. Hans diam seperti kehilangan kata.
Bulir bening tertahan di ujung manik mantan tentara itu. Shina mengusap pelan ujung jari tengah Hans dengan jari manis, tempat selingkar cincin emas berukir huruf H menggantung.
"Hans, nanti kita akan menemui dokter. Obatmu habis dan perbanmu harus diganti." Tak ada jawaban. Pria itu bergerak sedikit pun tidak. Hanya sepasang ain berbola kecokelatan dengan kelopak bergaris tajam yang semakin basah.
Shina bangkit, membiarkan Hans dengan kekalutan perasaannya sendiri. Lagi pula, suaminya tidak akan mau memakan sup itu dari tangannya. Dulu, dia sangat suka bila Shina memanjakannya, merengek meminta Hans yang sibuk untuk memakan sup buatannya sampai Hans menyerah. Dia akan duduk di depan Shina yang pura-pura marah, membuka mulut dan menunggu kekasihnya menyendokkan makanan.
"Shina..."
Seseorang memanggil setelah menyandarkan kendaraan besi yang melaju dengan bahan bakar panas, air dan angin. Seorang wanita tua dengan tudung kepala yang diikat asal mengetuk. Shina membukakan pintu dan segera menghambur ke pelukan Sarah. Gadis itu menjatuhkan keranjang berisi bahan pangan di lantai, membiarkan tubuh Shina jatuh dalam pelukannya. Kehadiran Sarah selalu berarti, bendungan air mata Shina seakan menemukan jalannya di bahu Sarah, kakak sepupu Hans. Puas dia menangis.
"Apa belum ada perkembangan?" tanya Sarah dengan suara pelan. Pertanyaan yang dia sudah tahu jawabannya. Shina menggeleng lemah dan menghapus habis air yang tadi dibiarkannya mengalir begitu saja.
"Kamu harus kuat," dahi Sarah tertekuk, "aku dengar negara adidaya sudah kewalahan, kemungkinan mereka akan membuat semacam kompromi dengan makhluk asing itu. Semoga pada akhirnya kehidupan kembali penuh damai dan mereka lekas pulang ke tempatnya. Semoga." Sarah memberi penekanan pada kata terakhir dengan mata terpejam dan sungguh-sungguh dari hatinya.
Doa yang sama dipanjatkan pula oleh Shina. Tidak ada yang menginginkan ini. Hidup dalam ketakutan. Menyerah atau melawan rasanya sama-sama melelahkan. Namun, bagi Shina, dia tidak pernah ragu untuk tetap bertahan, bahkan semisal dunia ini memilih menyerah.
Tangan Sarah mengelus lengan sepupu iparnya, memberi kekuatan. "Pimpinan Rusia kudengar sudah menyerah. Terakhir kulihat matanya memang sudah bercahaya." Suara Sarah berbisik dengan raut sedih yang tak mampu disembunyikannya.
Mata bercahaya adalah sebuah tanda jika seseorang sudah takluk. Entah bagaimana tetapi mata mereka selalu begitu, tidak lagi tampak kelopak dan bola mata berwarna. Mata itu seperti kosong dengan cahaya putih terang berpendar. Jika sudah begitu, tidak kau temukan lagi gelak tawa, hanya ada tubuh kaku yang seolah kehilangan ruhnya.
Shina menghela nafas. Entah sampai kapan ini semua berakhir. Bagaimana mungkin manusia bisa seceroboh itu membiarkan lapisan ozon bumi rusak parah, menjadi gerbang pertama makhluk asing datang. Terakhir, penerbitan satelit super elit yang mereka wacanakan sebagai peradaban baru. Nyatanya, justru mengundang musuh, makhluk-makhluk lain yang juga berakal dengan mata seperti cahaya lampu.
Satelit itu, sudah lama generasi Shina mengenalnya. Sejak kecil. Media mengatakan dunia tidak akan kekurangan lahan lagi. Semua benda dapat dengan mudah disimpan menjadi data dan kembali menjadi benda, manusia melakukan perjalanan tanpa transportasi, mereka seperti menghilang.
Shina masih ingat, di tengah kota tempat tinggalnya dia melihat kotak yang akan menjadi semacam halte tujuan. Manusia akan tiba-tiba muncul disana jika tujuan mereka ke kota ini. Kotak yang sangat ajaib, pikirnya dulu.
Peradaban bullshit! Shina memaki dalam hati. Apa yang dia lihat kini hanya langit kelabu, udara yang asam dan tanah yang mengeras, gersang. Beberapa orang mulai mencari kunci peradaban yang hilang, Hans dan Shina salah duanya. Mereka ikut terlibat dalam proyek itu tapi Hans tiba-tiba memilih jalan lain.
Dia ikut bertempur, tanpa memperhitungkan kekuatan musuh. Nalurinya sebagai tentara memanggilnya, dia tidak peduli sikap Shina yang menentang. Beruntung atau justru sial, Hans selamat dan dia adalah satu-satunya yang selamat dalam insiden pemberontakan itu.
Ngguuuuung.....
Terdengar suara dengungan keras dan bau yang menyengat. Shina dan Sarah bertatapan. Pulau ini terdeteksi. Wajah mereka pias. Sarah segera mengenakan masker begitu juga Shina. Ada riuh tangis dan ketakutan terdengar. Mereka menghambur keluar dengan tergopoh. Tangan Sarah gemetar, dia menjerit seperti jeritan orang-orang itu. Shina terdiam, mematung. Bulir-bulir air matanya jatuh, dilihatnya benda pipih sangat besar melayang di atas sana. Dia merasa linglung. Sarah menarik tangan Shina kasar.
"Lari! Lari!" Sarah berteriak.
Mereka bersama manusia lainnya ikut berlari menuju bangker. Semakin lama suara dengungan semakin keras, tampak sesuatu menyala di atas sana. Tiba-tiba langkah Shina berhenti. Dia teringat Hans. Sarah yang menyadari hal itu, cepat-cepat meraih tangan Shina. Wanita itu menangkis.
"Hans!" Shina menangis.
"Tidak ada waktu!" Bentak Sarah.
Shina berlari kembali menuju rumahnya. Sarah menyerah. Dia membiarkan Shina pergi. Air mata menetes lolos dari kedua manik Shina. Takut, cemas dan marah menjadi satu. Bayangan-bayangan kebersamaannya bersama Hans seperti berputar-putar di kepala tanpa sedetik pun jeda. Dia ketakutan, takut sesuatu yang buruk terjadi pada prianya.
Tubuh Shina bertabrakan dengan orang yang lari berlawanan arah. Tak ada yang peduli. Shina terus berlari sekuat tenaganya hingga tiba-tiba tubuhnya limbung, dia merasa sangat pusing. Wanita itu jatuh berlutut, perlahan pandangannya mulai kabur. Kepalanya terasa berat.
Bayangan wajah Hans masih tergambar jelas, ketika sebuah tangan menarik pundaknya. Pandangan Shina semakin kabur. Dia melihat seseorang.
"Hanss...!"
***bersambung***
#AyuNurfiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar