Alkisah, terdapat sebuah negara dengan kolam susu terluas di dunia di
mana penduduk hanya perlu duduk di tepi kolam susu untuk memancing ikan.
Tak perlu waktu lama, ikan-ikan itu akan datang menepi menyerahkan
dirinya. Tanaman-tanaman tumbuh subur, buah dan sayur mayur segar
memenuhi ladang-ladang. Dan di sana, jika kepala mendongak maka akan
terlihat jelas gunung emas raksasa.
Patma, salah satu penduduk desa di negeri itu mengambil remot yang tergeletak di sofa. Dengan mata masih merah dan wajah yang berukir lipatan sarung bantal, dia duduk menatap kaca pipih di depannya. Dahinya mengernyit, terlihat serius menyimak pidato seorang wanita tambun.
"Alamak! Mati aku!" Bentaknya usai mendengar pidato di tv. Wajahnya gelisah. Patmo yang mendengar suara teriakan sang istri pun penasaran. Perihal apa kiranya yang membuat Patma marah-marah padahal hari masih pagi, kebul kopi pun belum tercium wanginya.
"Kenapa, Yang?"
Patma memberi isyarat dengan matanya, menyuruh Patmo menyimak berita.
"Udah jatuh tempo! Sial betul, kita nggak ngerti apa-apa disuruh bayar hutang. Mana ratusan ribu trilyun pula."
Patmo mengangguk-angguk. "Apa kolam susu berhektar-hektar itu bisa dijual?"
"Nggak laku!" Jawab Patma, pendek. Muka masamnya bertambah masam.
"Kalau susu yang lain?"
"Hush!" Wanita itu mendelik. Patmo tertawa setengah mengejek.
"Susu sapi atau domba gitu." Patmo mengklarifikasi sembari telunjuk tangannya menowel dagu empuk Patma.
"Apalagi itu! Aduh, negara ini bisa dijual. Terus kita diusir. Mati aku! Nggak bisa aku kalau tinggal di London, Pak. Di sana nggak bisa makan sambel pete. Mati aku!"
Patma terisak. Daster yang dia kenakan pun mulai basah. Patmo bingung, bagaimana dia harus menghibur Patma. Dia tahu, istrinya tidak mau makan tanpa sambel pete kesayangannya, apalagi menggantinya dengan waffle. Nggak bisa! Itu sama saja membunuhnya pelan-pelan.
"Lah terus gimana, Yang?"
Tangis Patma semakin pilu. Dengan sesenggukan dia mengoceh membayangkan nasib buruk negara ini. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Patma dan Patmo berpandangan. Sepagi ini pintu rumah mereka diketuk dan yang datang pun sepertinya beberapa orang, banyak malah.
"Paaat..." Terdengar suara orang-orang memanggil.
Patmo dan Patma beranjak dari sofa. Diintipnya dari balik jendela sebelum membuka pintu. Lagi, mereka berpandangan heran. Rupanya tetangga-tetangga mereka sudah berkumpul di depan rumah. Jumlahnya banyak bahkan dari rt sebelah pun ikut.
"Kita ada salah apa ya, Bu?"
Patma melirik Patmo penuh curiga. "Jangan bilang kamu habis melakukan hal tak senonoh pada anak orang, Pak!" Patma melotot, tangannya berkacak pinggang dan hidungnya kembang kempis.
"Nggak." Jawab Patmo sedikit ragu.
Patma memajukan badannya dan matanya semakin melotot keluar membuat nyali Patmo menciut. Dia berusaha mengingat-ingat, kira-kira janda mana yang sudah melaporkannya.
"Pat... Buka pintu." Lagi, terdengar suara tetangga mereka.
Akhirnya Patma mengambil kunci dan membukakan pintu. Matanya tak berhenti mengintai Patmo yang mulai gugup, salah tingkah. Sementara dibalik kantong daster, Patma sudah menyiapkan pisau dapur tertajam miliknya.
"Duuuh, lama sekali kalian ini."
Belum sempat Patma bertanya, para tetangga menyuruhnya segera ikut.
"Kemana?" Patma dan Patmo serentak bertanya.
"Elahhh... masih tanya. Ayo cepetan kita berburu racun kalajengking untuk membayar hutang negara," terang Pak Rt.
Patmo dan Patma pun bergegas mengikuti rombongan itu. Dalam hati Patma merasa lega, akhirnya dia tidak jadi mati karena kekurangan gizi sambal pete. Alhamdulillah.
#ayunurfiyah
NB : fiksi belaka.
Patma, salah satu penduduk desa di negeri itu mengambil remot yang tergeletak di sofa. Dengan mata masih merah dan wajah yang berukir lipatan sarung bantal, dia duduk menatap kaca pipih di depannya. Dahinya mengernyit, terlihat serius menyimak pidato seorang wanita tambun.
"Alamak! Mati aku!" Bentaknya usai mendengar pidato di tv. Wajahnya gelisah. Patmo yang mendengar suara teriakan sang istri pun penasaran. Perihal apa kiranya yang membuat Patma marah-marah padahal hari masih pagi, kebul kopi pun belum tercium wanginya.
"Kenapa, Yang?"
Patma memberi isyarat dengan matanya, menyuruh Patmo menyimak berita.
"Udah jatuh tempo! Sial betul, kita nggak ngerti apa-apa disuruh bayar hutang. Mana ratusan ribu trilyun pula."
Patmo mengangguk-angguk. "Apa kolam susu berhektar-hektar itu bisa dijual?"
"Nggak laku!" Jawab Patma, pendek. Muka masamnya bertambah masam.
"Kalau susu yang lain?"
"Hush!" Wanita itu mendelik. Patmo tertawa setengah mengejek.
"Susu sapi atau domba gitu." Patmo mengklarifikasi sembari telunjuk tangannya menowel dagu empuk Patma.
"Apalagi itu! Aduh, negara ini bisa dijual. Terus kita diusir. Mati aku! Nggak bisa aku kalau tinggal di London, Pak. Di sana nggak bisa makan sambel pete. Mati aku!"
Patma terisak. Daster yang dia kenakan pun mulai basah. Patmo bingung, bagaimana dia harus menghibur Patma. Dia tahu, istrinya tidak mau makan tanpa sambel pete kesayangannya, apalagi menggantinya dengan waffle. Nggak bisa! Itu sama saja membunuhnya pelan-pelan.
"Lah terus gimana, Yang?"
Tangis Patma semakin pilu. Dengan sesenggukan dia mengoceh membayangkan nasib buruk negara ini. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Patma dan Patmo berpandangan. Sepagi ini pintu rumah mereka diketuk dan yang datang pun sepertinya beberapa orang, banyak malah.
"Paaat..." Terdengar suara orang-orang memanggil.
Patmo dan Patma beranjak dari sofa. Diintipnya dari balik jendela sebelum membuka pintu. Lagi, mereka berpandangan heran. Rupanya tetangga-tetangga mereka sudah berkumpul di depan rumah. Jumlahnya banyak bahkan dari rt sebelah pun ikut.
"Kita ada salah apa ya, Bu?"
Patma melirik Patmo penuh curiga. "Jangan bilang kamu habis melakukan hal tak senonoh pada anak orang, Pak!" Patma melotot, tangannya berkacak pinggang dan hidungnya kembang kempis.
"Nggak." Jawab Patmo sedikit ragu.
Patma memajukan badannya dan matanya semakin melotot keluar membuat nyali Patmo menciut. Dia berusaha mengingat-ingat, kira-kira janda mana yang sudah melaporkannya.
"Pat... Buka pintu." Lagi, terdengar suara tetangga mereka.
Akhirnya Patma mengambil kunci dan membukakan pintu. Matanya tak berhenti mengintai Patmo yang mulai gugup, salah tingkah. Sementara dibalik kantong daster, Patma sudah menyiapkan pisau dapur tertajam miliknya.
"Duuuh, lama sekali kalian ini."
Belum sempat Patma bertanya, para tetangga menyuruhnya segera ikut.
"Kemana?" Patma dan Patmo serentak bertanya.
"Elahhh... masih tanya. Ayo cepetan kita berburu racun kalajengking untuk membayar hutang negara," terang Pak Rt.
Patmo dan Patma pun bergegas mengikuti rombongan itu. Dalam hati Patma merasa lega, akhirnya dia tidak jadi mati karena kekurangan gizi sambal pete. Alhamdulillah.
#ayunurfiyah
NB : fiksi belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar