Jumat, 04 Januari 2019

PENJAGA TERAKHIR (PART 2)

Percikan kilat menyambar tiap jengkal pulau disusul dentuman bersahutan yang memekakan telinga. Semua orang ketakutan, mereka adalah segelintir yang berhasil menyelamatkan diri. Tangis pilu nan histeris yang bertalu-talu. Beberapa saling berpelukan, mencoba berbagi rasa putus asa. Asa, apakah akan tetap ada asa?

***
Lelaki itu mondar mandir, memberi arahan pada siapapun yang tidak terluka parah untuk turut membantu para korban. Asap gasnya mampu menghancurkan daging bertulang dengan cepat.

"Berapa jumlahnya?"

Wanita berkacamata yang ditanya menghela nafas. Bibirnya kaku, kata yang ada di kepala menguap menjadi getaran saja.

"Perawat Liem..." Dokter Bimar meminta jawaban.

Bola mata Liem bergerak tak tentu arah berharap air matanya sedikit memberi ruang baginya bicara.
Hahh... Liem membuang nafas dengan berat.

"Lebih dari lima puluh persen yang berhasil masuk ke dalam bangker pentagon ...," Liem terisak, "tapi banyak dari mereka..." kalimat Liem menggantung.

Dokter Bimar tahu apa kelanjutan kalimat itu. Tangisan Liem yang pecah sudah cukup menjelaskan. Jumlah mereka semakin sedikit, semakin terdesak. Entah sampai kapan keadaan akan terus begini. Bangker berbentuk pentagon pelindung pasti tidak akan selamanya menjadi tempat persembunyian. Bangker ini belum teruji untuk dipakai jangka panjang.

Sorot mata lelaki itu tertuju pada lantai teratas bangker. Di sana sedang diadakan rapat. Beberapa kali terdengar teriakan perdebatan, marah dan ekspresi takut. Seketika memorinya terlempar pada momen itu. Shina memunggungi Hans, wajahnya menahan marah, takut dan putus asa sekaligus. Saat itu benar - benar hening, hingga suara nafas berat Shina terdengar. Wanita itu dan suaminya, mereka sama keras kepalanya.

"Apa yang bisa diharapkan selain menyerah?" Liem sudah terlihat lebih baik ketika menanyakan itu pada dokter Bimar.

Tak ada jawaban, hanya tepukan di bahu yang entah apa maknanya. Lalu melangkah pergi menuju bangsal lain.

Pemandangan yang tak asing, berderet tubuh manusia dengan berbagai keluhan akibat serangan pagi itu. Beberapa perawat melaporkan hasil pemeriksaan mereka. Dokter Bimar memberikan arahan setenang mungkin di tengah suara tangis dan jeritan mereka yang selamat.

"Hans..." Suara seseorang menggumam. Shina, dia bersama Sarah yang telaten merawat satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

Seorang anak kecil menarik tangan dokter Hans dari dalam kantong celana panjang. Yuka, anak lelaki tuna wicara yang ceria. Dia yatim piatu, selama ini tinggal bersama keluarga pasangan tua.

Anak lelaki itu menggerakan tangan, memberi isyarat.
"Dokter, mereka sudah pergi. Kita aman di dalam bangker pentagon." Arti gerakan bahasa isyarat Yuka. Anak lelaki itu berseri, seolah dia yakin memang sudah aman.

Dokter Bimar mengangguk dengan sebentuk sabit senyum di wajahnya. Dokter Bimar lalu menggerakan tanganya beberapa saat.

"Ya, kita aman. Sekarang kau harus belajar, pahlawan."

Yuka tertawa, dia tampak senang dengan pujian pahlawan. Dia berjingkat riang menunjukkan barisan gigi karisnya.

"Dokter!" Sarah memanggil dengan panik.

Dokter Bimar dan Yuka menghampiri Sarah. Wanita itu terus memegang kening Shina. Suhu tubuhnya terasa panas sekali sedangkan telapak kaki dingin, wajahnya pucat, dan bibirnya meracau. Dia menyebut nama Hans berkali-kali. Buru-buru dokter Bimar memeriksa wanita itu. Dahinya berkerut.

"Suhu tubuhnya sangat tinggi." Dokter Bimar memerintah perawat mengambilkan obat dan alat tes darah.

"Tolong selamatkan dia, Dokter. Dia satu-satunya keluargaku sekarang. Tolong." Sarah menangis keras, "Keluarga macam apa aku ini? Aku membiarkan Shina berbalik arah untuk menyelamatkan Hans. Aku hanya berfikir menyelamatkan diriku saja. Tolong Dokter, selamatkan dia."

Sarah jatuh terduduk. Dia sangat menghawatirkan Shina. Baru pagi tadi mereka berbagi duka. Bagaimana jika pagi itu adalah pagi terakhir mereka berbincang. Yuke mencoba menghibur Sarah tetapi percuma, Sarah merasa pilu. Bahkan dia masih menyalahkan dirinya yang memilih membiarkan Shina melakukan tindakan bodoh.

Dokter Bimar mengambil sampel darah Shina dan mesin itu masih berproses. Di balik kacamata, dokter Bimar mengamati satu demi satu catatan hasil tes yang terbaca. Dahinya mengernyit. Kondisinya secara umum baik. Hanya saja Shina, dia akan menjadi seorang ibu.

Ada senyum tersungging setelah menyadari hal itu. Setidaknya ada rasa lega, Shina baik-baik saja tetapi itu juga berarti dia tidak seharusnya sering-sering berada di dalam bangker pentagon. Biar bagaimanapun, bangker ini bekerja dengan mengubah diri dan seisinya menjadi materi kecil yang memungkinkan benda itu masuk ke dalam terowongan bawah tanah dan tersembunyi. Tapi itu buruk bagi perkembangan kehamilan wanita.

"Tolong selamatkan dia dokter..." Sarah masih terus memohon.

"Shina baik-baik saja. Dan kabar baiknya," Ada lengkungan di wajah dokter Bimar, "dia hamil."
Sarah menghela nafas lega bahkan dia bahagia.

"Dokter, ada pasien kritis."

Seorang perawat berteriak dari bangsal lain.

Dokter muda itu setengah berlari meski sempat indranya mencuri pandang pada teman masa kecilnya itu, Shina. Shina kecil yang sangat suka berpetualang dan pemberani. Gadis itu tidak berubah, masih keras kepala tetapi juga sangat peduli pada orang lain.

***
Hari berganti malam tanpa penanda bintang atau bulan. Sedari tadi di luar pentagon memanglah gelap. Shina sudah terjaga, tatapannya kosong. Air matanya sudah kering. Separuh hatinya hancur bersama kegagalannya menyelamatkan Hans. Kalau saja tidak pingsan atau seandainya dia tidak meninggalkan Hans yang terbaring lemah atau seandainya dia sudah memperhitungkan serangan itu sebelumnya.

Sarah menyibak rambut Shina. Dia tidak tahu lagi harus dengan apa menghibur hati yang patah. Sarah sudah memberi tahu wanita itu soal kehamilannya tapi Shina hanya diam tanpa ekspresi, larut dalam pikirannya sendiri.

Dua orang datang menemui Shina. Mereka rekan satu tim Shina dan Hans. Sama sepertinya, mereka juga menolak menyerah pada para makhluk dari Galaksi lain itu, meski di sisi lain mereka juga tidak tahu apapun tentang makhluk asing itu. Dengan apa harus melakukan perlawanan? Selain keputusan untuk mempertahankan kehidupan manusia.

Ken mengusap punggung tangan Shina, berusaha memberi kekuatan. Sama seperti Sarah, dia tak tahu harus dengan cara apa menghibur Shina.

"Hans pasti ingin kamu kuat, Shina." Akhirnya sebaris kalimat keluar dari mulutnya, "Kembalilah bergabung bersama kami!"

"Ken!" Leo memperingatkan Ken. Biar bagaimanapun Shina sedang hancur, tidak tepat rasanya membicarakan hal itu sekarang.

Ken menghela nafas. Leo mengajak Ken pergi dengan isyarat mata. Mereka harus segera terhubung dengan kelompok lain untuk berdiskusi.

"Shina, anak kalian berhak mewarisi bumi." Bisik Ken sebelum menyusul Leo. Seperti tamparan keras, kalimat itu membuat Shina seolab terjaga dari tidurnya.
Shina memgatup matanya rapat. Kembali dia teringat kemarahan itu, kemarahannya, kemarahan Hans, kemarahan keluarganya dan lebih dari itu, ada malaikat kecil yang berhak diperjuangkan.

"Aku akan merebut dunia ini untuk kita." Sepasang ain itu memejam khusyu sembari Shina mengusap baju yang menutupi perutnya.
*** Bersambung ***
#AyuNurfiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar