Percikan kilat menyambar tiap jengkal pulau disusul dentuman
bersahutan yang memekakan telinga. Semua orang ketakutan, mereka adalah
segelintir yang berhasil menyelamatkan diri. Tangis pilu nan histeris
yang bertalu-talu. Beberapa saling berpelukan, mencoba berbagi rasa
putus asa. Asa, apakah akan tetap ada asa?
***
Lelaki itu
mondar mandir, memberi arahan pada siapapun yang tidak terluka parah
untuk turut membantu para korban. Asap gasnya mampu menghancurkan daging
bertulang dengan cepat.
"Berapa jumlahnya?"
Wanita berkacamata yang ditanya menghela nafas. Bibirnya kaku, kata yang ada di kepala menguap menjadi getaran saja.
"Perawat Liem..." Dokter Bimar meminta jawaban.
Bola mata Liem bergerak tak tentu arah berharap air matanya sedikit memberi ruang baginya bicara.
Hahh... Liem membuang nafas dengan berat.
"Lebih dari lima puluh persen yang berhasil masuk ke dalam bangker
pentagon ...," Liem terisak, "tapi banyak dari mereka..." kalimat Liem
menggantung.
Dokter Bimar tahu apa kelanjutan kalimat itu.
Tangisan Liem yang pecah sudah cukup menjelaskan. Jumlah mereka semakin
sedikit, semakin terdesak. Entah sampai kapan keadaan akan terus begini.
Bangker berbentuk pentagon pelindung pasti tidak akan selamanya menjadi
tempat persembunyian. Bangker ini belum teruji untuk dipakai jangka
panjang.
Sorot mata lelaki itu tertuju pada lantai teratas
bangker. Di sana sedang diadakan rapat. Beberapa kali terdengar teriakan
perdebatan, marah dan ekspresi takut. Seketika memorinya terlempar pada
momen itu. Shina memunggungi Hans, wajahnya menahan marah, takut dan
putus asa sekaligus. Saat itu benar - benar hening, hingga suara nafas
berat Shina terdengar. Wanita itu dan suaminya, mereka sama keras
kepalanya.
"Apa yang bisa diharapkan selain menyerah?" Liem sudah terlihat lebih baik ketika menanyakan itu pada dokter Bimar.
Tak ada jawaban, hanya tepukan di bahu yang entah apa maknanya. Lalu melangkah pergi menuju bangsal lain.
Pemandangan yang tak asing, berderet tubuh manusia dengan berbagai
keluhan akibat serangan pagi itu. Beberapa perawat melaporkan hasil
pemeriksaan mereka. Dokter Bimar memberikan arahan setenang mungkin di
tengah suara tangis dan jeritan mereka yang selamat.
"Hans..." Suara seseorang menggumam. Shina, dia bersama Sarah yang telaten merawat satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
Seorang anak kecil menarik tangan dokter Hans dari dalam kantong celana
panjang. Yuka, anak lelaki tuna wicara yang ceria. Dia yatim piatu,
selama ini tinggal bersama keluarga pasangan tua.
Anak lelaki itu menggerakan tangan, memberi isyarat.
"Dokter, mereka sudah pergi. Kita aman di dalam bangker pentagon." Arti
gerakan bahasa isyarat Yuka. Anak lelaki itu berseri, seolah dia yakin
memang sudah aman.
Dokter Bimar mengangguk dengan sebentuk sabit senyum di wajahnya. Dokter Bimar lalu menggerakan tanganya beberapa saat.
"Ya, kita aman. Sekarang kau harus belajar, pahlawan."
Yuka tertawa, dia tampak senang dengan pujian pahlawan. Dia berjingkat riang menunjukkan barisan gigi karisnya.
"Dokter!" Sarah memanggil dengan panik.
Dokter Bimar dan Yuka menghampiri Sarah. Wanita itu terus memegang
kening Shina. Suhu tubuhnya terasa panas sekali sedangkan telapak kaki
dingin, wajahnya pucat, dan bibirnya meracau. Dia menyebut nama Hans
berkali-kali. Buru-buru dokter Bimar memeriksa wanita itu. Dahinya
berkerut.
"Suhu tubuhnya sangat tinggi." Dokter Bimar memerintah perawat mengambilkan obat dan alat tes darah.
"Tolong selamatkan dia, Dokter. Dia satu-satunya keluargaku sekarang.
Tolong." Sarah menangis keras, "Keluarga macam apa aku ini? Aku
membiarkan Shina berbalik arah untuk menyelamatkan Hans. Aku hanya
berfikir menyelamatkan diriku saja. Tolong Dokter, selamatkan dia."
Sarah jatuh terduduk. Dia sangat menghawatirkan Shina. Baru pagi tadi
mereka berbagi duka. Bagaimana jika pagi itu adalah pagi terakhir mereka
berbincang. Yuke mencoba menghibur Sarah tetapi percuma, Sarah merasa
pilu. Bahkan dia masih menyalahkan dirinya yang memilih membiarkan Shina
melakukan tindakan bodoh.
Dokter Bimar mengambil sampel darah
Shina dan mesin itu masih berproses. Di balik kacamata, dokter Bimar
mengamati satu demi satu catatan hasil tes yang terbaca. Dahinya
mengernyit. Kondisinya secara umum baik. Hanya saja Shina, dia akan
menjadi seorang ibu.
Ada senyum tersungging setelah menyadari
hal itu. Setidaknya ada rasa lega, Shina baik-baik saja tetapi itu juga
berarti dia tidak seharusnya sering-sering berada di dalam bangker
pentagon. Biar bagaimanapun, bangker ini bekerja dengan mengubah diri
dan seisinya menjadi materi kecil yang memungkinkan benda itu masuk ke
dalam terowongan bawah tanah dan tersembunyi. Tapi itu buruk bagi
perkembangan kehamilan wanita.
"Tolong selamatkan dia dokter..." Sarah masih terus memohon.
"Shina baik-baik saja. Dan kabar baiknya," Ada lengkungan di wajah dokter Bimar, "dia hamil."
Sarah menghela nafas lega bahkan dia bahagia.
"Dokter, ada pasien kritis."
Seorang perawat berteriak dari bangsal lain.
Dokter muda itu setengah berlari meski sempat indranya mencuri pandang
pada teman masa kecilnya itu, Shina. Shina kecil yang sangat suka
berpetualang dan pemberani. Gadis itu tidak berubah, masih keras kepala
tetapi juga sangat peduli pada orang lain.
***
Hari berganti
malam tanpa penanda bintang atau bulan. Sedari tadi di luar pentagon
memanglah gelap. Shina sudah terjaga, tatapannya kosong. Air matanya
sudah kering. Separuh hatinya hancur bersama kegagalannya menyelamatkan
Hans. Kalau saja tidak pingsan atau seandainya dia tidak meninggalkan
Hans yang terbaring lemah atau seandainya dia sudah memperhitungkan
serangan itu sebelumnya.
Sarah menyibak rambut Shina. Dia tidak
tahu lagi harus dengan apa menghibur hati yang patah. Sarah sudah
memberi tahu wanita itu soal kehamilannya tapi Shina hanya diam tanpa
ekspresi, larut dalam pikirannya sendiri.
Dua orang datang
menemui Shina. Mereka rekan satu tim Shina dan Hans. Sama sepertinya,
mereka juga menolak menyerah pada para makhluk dari Galaksi lain itu,
meski di sisi lain mereka juga tidak tahu apapun tentang makhluk asing
itu. Dengan apa harus melakukan perlawanan? Selain keputusan untuk
mempertahankan kehidupan manusia.
Ken mengusap punggung tangan
Shina, berusaha memberi kekuatan. Sama seperti Sarah, dia tak tahu harus
dengan cara apa menghibur Shina.
"Hans pasti ingin kamu kuat, Shina." Akhirnya sebaris kalimat keluar dari mulutnya, "Kembalilah bergabung bersama kami!"
"Ken!" Leo memperingatkan Ken. Biar bagaimanapun Shina sedang hancur, tidak tepat rasanya membicarakan hal itu sekarang.
Ken menghela nafas. Leo mengajak Ken pergi dengan isyarat mata. Mereka
harus segera terhubung dengan kelompok lain untuk berdiskusi.
"Shina, anak kalian berhak mewarisi bumi." Bisik Ken sebelum menyusul
Leo. Seperti tamparan keras, kalimat itu membuat Shina seolab terjaga
dari tidurnya.
Shina memgatup matanya rapat. Kembali dia teringat
kemarahan itu, kemarahannya, kemarahan Hans, kemarahan keluarganya dan
lebih dari itu, ada malaikat kecil yang berhak diperjuangkan.
"Aku akan merebut dunia ini untuk kita." Sepasang ain itu memejam khusyu sembari Shina mengusap baju yang menutupi perutnya.
*** Bersambung ***
#AyuNurfiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar