Percikan kilat menyambar tiap jengkal pulau disusul dentuman
bersahutan yang memekakan telinga. Semua orang ketakutan, mereka adalah
segelintir yang berhasil menyelamatkan diri. Tangis pilu nan histeris
yang bertalu-talu. Beberapa saling berpelukan, mencoba berbagi rasa
putus asa. Asa, apakah akan tetap ada asa?
***
Lelaki itu
mondar mandir, memberi arahan pada siapapun yang tidak terluka parah
untuk turut membantu para korban. Asap gasnya mampu menghancurkan daging
bertulang dengan cepat.
"Berapa jumlahnya?"
Wanita berkacamata yang ditanya menghela nafas. Bibirnya kaku, kata yang ada di kepala menguap menjadi getaran saja.
"Perawat Liem..." Dokter Bimar meminta jawaban.
Bola mata Liem bergerak tak tentu arah berharap air matanya sedikit memberi ruang baginya bicara.
Hahh... Liem membuang nafas dengan berat.
"Lebih dari lima puluh persen yang berhasil masuk ke dalam bangker
pentagon ...," Liem terisak, "tapi banyak dari mereka..." kalimat Liem
menggantung.
Dokter Bimar tahu apa kelanjutan kalimat itu.
Tangisan Liem yang pecah sudah cukup menjelaskan. Jumlah mereka semakin
sedikit, semakin terdesak. Entah sampai kapan keadaan akan terus begini.
Bangker berbentuk pentagon pelindung pasti tidak akan selamanya menjadi
tempat persembunyian. Bangker ini belum teruji untuk dipakai jangka
panjang.
Sorot mata lelaki itu tertuju pada lantai teratas
bangker. Di sana sedang diadakan rapat. Beberapa kali terdengar teriakan
perdebatan, marah dan ekspresi takut. Seketika memorinya terlempar pada
momen itu. Shina memunggungi Hans, wajahnya menahan marah, takut dan
putus asa sekaligus. Saat itu benar - benar hening, hingga suara nafas
berat Shina terdengar. Wanita itu dan suaminya, mereka sama keras
kepalanya.
"Apa yang bisa diharapkan selain menyerah?" Liem sudah terlihat lebih baik ketika menanyakan itu pada dokter Bimar.
Tak ada jawaban, hanya tepukan di bahu yang entah apa maknanya. Lalu melangkah pergi menuju bangsal lain.
Pemandangan yang tak asing, berderet tubuh manusia dengan berbagai
keluhan akibat serangan pagi itu. Beberapa perawat melaporkan hasil
pemeriksaan mereka. Dokter Bimar memberikan arahan setenang mungkin di
tengah suara tangis dan jeritan mereka yang selamat.
"Hans..." Suara seseorang menggumam. Shina, dia bersama Sarah yang telaten merawat satu-satunya keluarga yang dimilikinya.
Seorang anak kecil menarik tangan dokter Hans dari dalam kantong celana
panjang. Yuka, anak lelaki tuna wicara yang ceria. Dia yatim piatu,
selama ini tinggal bersama keluarga pasangan tua.
Anak lelaki itu menggerakan tangan, memberi isyarat.
"Dokter, mereka sudah pergi. Kita aman di dalam bangker pentagon." Arti
gerakan bahasa isyarat Yuka. Anak lelaki itu berseri, seolah dia yakin
memang sudah aman.
Dokter Bimar mengangguk dengan sebentuk sabit senyum di wajahnya. Dokter Bimar lalu menggerakan tanganya beberapa saat.
"Ya, kita aman. Sekarang kau harus belajar, pahlawan."
Yuka tertawa, dia tampak senang dengan pujian pahlawan. Dia berjingkat riang menunjukkan barisan gigi karisnya.
"Dokter!" Sarah memanggil dengan panik.
Dokter Bimar dan Yuka menghampiri Sarah. Wanita itu terus memegang
kening Shina. Suhu tubuhnya terasa panas sekali sedangkan telapak kaki
dingin, wajahnya pucat, dan bibirnya meracau. Dia menyebut nama Hans
berkali-kali. Buru-buru dokter Bimar memeriksa wanita itu. Dahinya
berkerut.
"Suhu tubuhnya sangat tinggi." Dokter Bimar memerintah perawat mengambilkan obat dan alat tes darah.
"Tolong selamatkan dia, Dokter. Dia satu-satunya keluargaku sekarang.
Tolong." Sarah menangis keras, "Keluarga macam apa aku ini? Aku
membiarkan Shina berbalik arah untuk menyelamatkan Hans. Aku hanya
berfikir menyelamatkan diriku saja. Tolong Dokter, selamatkan dia."
Sarah jatuh terduduk. Dia sangat menghawatirkan Shina. Baru pagi tadi
mereka berbagi duka. Bagaimana jika pagi itu adalah pagi terakhir mereka
berbincang. Yuke mencoba menghibur Sarah tetapi percuma, Sarah merasa
pilu. Bahkan dia masih menyalahkan dirinya yang memilih membiarkan Shina
melakukan tindakan bodoh.
Dokter Bimar mengambil sampel darah
Shina dan mesin itu masih berproses. Di balik kacamata, dokter Bimar
mengamati satu demi satu catatan hasil tes yang terbaca. Dahinya
mengernyit. Kondisinya secara umum baik. Hanya saja Shina, dia akan
menjadi seorang ibu.
Ada senyum tersungging setelah menyadari
hal itu. Setidaknya ada rasa lega, Shina baik-baik saja tetapi itu juga
berarti dia tidak seharusnya sering-sering berada di dalam bangker
pentagon. Biar bagaimanapun, bangker ini bekerja dengan mengubah diri
dan seisinya menjadi materi kecil yang memungkinkan benda itu masuk ke
dalam terowongan bawah tanah dan tersembunyi. Tapi itu buruk bagi
perkembangan kehamilan wanita.
"Tolong selamatkan dia dokter..." Sarah masih terus memohon.
"Shina baik-baik saja. Dan kabar baiknya," Ada lengkungan di wajah dokter Bimar, "dia hamil."
Sarah menghela nafas lega bahkan dia bahagia.
"Dokter, ada pasien kritis."
Seorang perawat berteriak dari bangsal lain.
Dokter muda itu setengah berlari meski sempat indranya mencuri pandang
pada teman masa kecilnya itu, Shina. Shina kecil yang sangat suka
berpetualang dan pemberani. Gadis itu tidak berubah, masih keras kepala
tetapi juga sangat peduli pada orang lain.
***
Hari berganti
malam tanpa penanda bintang atau bulan. Sedari tadi di luar pentagon
memanglah gelap. Shina sudah terjaga, tatapannya kosong. Air matanya
sudah kering. Separuh hatinya hancur bersama kegagalannya menyelamatkan
Hans. Kalau saja tidak pingsan atau seandainya dia tidak meninggalkan
Hans yang terbaring lemah atau seandainya dia sudah memperhitungkan
serangan itu sebelumnya.
Sarah menyibak rambut Shina. Dia tidak
tahu lagi harus dengan apa menghibur hati yang patah. Sarah sudah
memberi tahu wanita itu soal kehamilannya tapi Shina hanya diam tanpa
ekspresi, larut dalam pikirannya sendiri.
Dua orang datang
menemui Shina. Mereka rekan satu tim Shina dan Hans. Sama sepertinya,
mereka juga menolak menyerah pada para makhluk dari Galaksi lain itu,
meski di sisi lain mereka juga tidak tahu apapun tentang makhluk asing
itu. Dengan apa harus melakukan perlawanan? Selain keputusan untuk
mempertahankan kehidupan manusia.
Ken mengusap punggung tangan
Shina, berusaha memberi kekuatan. Sama seperti Sarah, dia tak tahu harus
dengan cara apa menghibur Shina.
"Hans pasti ingin kamu kuat, Shina." Akhirnya sebaris kalimat keluar dari mulutnya, "Kembalilah bergabung bersama kami!"
"Ken!" Leo memperingatkan Ken. Biar bagaimanapun Shina sedang hancur, tidak tepat rasanya membicarakan hal itu sekarang.
Ken menghela nafas. Leo mengajak Ken pergi dengan isyarat mata. Mereka
harus segera terhubung dengan kelompok lain untuk berdiskusi.
"Shina, anak kalian berhak mewarisi bumi." Bisik Ken sebelum menyusul
Leo. Seperti tamparan keras, kalimat itu membuat Shina seolab terjaga
dari tidurnya.
Shina memgatup matanya rapat. Kembali dia teringat
kemarahan itu, kemarahannya, kemarahan Hans, kemarahan keluarganya dan
lebih dari itu, ada malaikat kecil yang berhak diperjuangkan.
"Aku akan merebut dunia ini untuk kita." Sepasang ain itu memejam khusyu sembari Shina mengusap baju yang menutupi perutnya.
*** Bersambung ***
#AyuNurfiyah
Me and My Some Years Later Best Friend
Jumat, 04 Januari 2019
GENERASI JATUH TEMPO (CERPEN)
Alkisah, terdapat sebuah negara dengan kolam susu terluas di dunia di
mana penduduk hanya perlu duduk di tepi kolam susu untuk memancing ikan.
Tak perlu waktu lama, ikan-ikan itu akan datang menepi menyerahkan
dirinya. Tanaman-tanaman tumbuh subur, buah dan sayur mayur segar
memenuhi ladang-ladang. Dan di sana, jika kepala mendongak maka akan
terlihat jelas gunung emas raksasa.
Patma, salah satu penduduk desa di negeri itu mengambil remot yang tergeletak di sofa. Dengan mata masih merah dan wajah yang berukir lipatan sarung bantal, dia duduk menatap kaca pipih di depannya. Dahinya mengernyit, terlihat serius menyimak pidato seorang wanita tambun.
"Alamak! Mati aku!" Bentaknya usai mendengar pidato di tv. Wajahnya gelisah. Patmo yang mendengar suara teriakan sang istri pun penasaran. Perihal apa kiranya yang membuat Patma marah-marah padahal hari masih pagi, kebul kopi pun belum tercium wanginya.
"Kenapa, Yang?"
Patma memberi isyarat dengan matanya, menyuruh Patmo menyimak berita.
"Udah jatuh tempo! Sial betul, kita nggak ngerti apa-apa disuruh bayar hutang. Mana ratusan ribu trilyun pula."
Patmo mengangguk-angguk. "Apa kolam susu berhektar-hektar itu bisa dijual?"
"Nggak laku!" Jawab Patma, pendek. Muka masamnya bertambah masam.
"Kalau susu yang lain?"
"Hush!" Wanita itu mendelik. Patmo tertawa setengah mengejek.
"Susu sapi atau domba gitu." Patmo mengklarifikasi sembari telunjuk tangannya menowel dagu empuk Patma.
"Apalagi itu! Aduh, negara ini bisa dijual. Terus kita diusir. Mati aku! Nggak bisa aku kalau tinggal di London, Pak. Di sana nggak bisa makan sambel pete. Mati aku!"
Patma terisak. Daster yang dia kenakan pun mulai basah. Patmo bingung, bagaimana dia harus menghibur Patma. Dia tahu, istrinya tidak mau makan tanpa sambel pete kesayangannya, apalagi menggantinya dengan waffle. Nggak bisa! Itu sama saja membunuhnya pelan-pelan.
"Lah terus gimana, Yang?"
Tangis Patma semakin pilu. Dengan sesenggukan dia mengoceh membayangkan nasib buruk negara ini. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Patma dan Patmo berpandangan. Sepagi ini pintu rumah mereka diketuk dan yang datang pun sepertinya beberapa orang, banyak malah.
"Paaat..." Terdengar suara orang-orang memanggil.
Patmo dan Patma beranjak dari sofa. Diintipnya dari balik jendela sebelum membuka pintu. Lagi, mereka berpandangan heran. Rupanya tetangga-tetangga mereka sudah berkumpul di depan rumah. Jumlahnya banyak bahkan dari rt sebelah pun ikut.
"Kita ada salah apa ya, Bu?"
Patma melirik Patmo penuh curiga. "Jangan bilang kamu habis melakukan hal tak senonoh pada anak orang, Pak!" Patma melotot, tangannya berkacak pinggang dan hidungnya kembang kempis.
"Nggak." Jawab Patmo sedikit ragu.
Patma memajukan badannya dan matanya semakin melotot keluar membuat nyali Patmo menciut. Dia berusaha mengingat-ingat, kira-kira janda mana yang sudah melaporkannya.
"Pat... Buka pintu." Lagi, terdengar suara tetangga mereka.
Akhirnya Patma mengambil kunci dan membukakan pintu. Matanya tak berhenti mengintai Patmo yang mulai gugup, salah tingkah. Sementara dibalik kantong daster, Patma sudah menyiapkan pisau dapur tertajam miliknya.
"Duuuh, lama sekali kalian ini."
Belum sempat Patma bertanya, para tetangga menyuruhnya segera ikut.
"Kemana?" Patma dan Patmo serentak bertanya.
"Elahhh... masih tanya. Ayo cepetan kita berburu racun kalajengking untuk membayar hutang negara," terang Pak Rt.
Patmo dan Patma pun bergegas mengikuti rombongan itu. Dalam hati Patma merasa lega, akhirnya dia tidak jadi mati karena kekurangan gizi sambal pete. Alhamdulillah.
#ayunurfiyah
NB : fiksi belaka.
Patma, salah satu penduduk desa di negeri itu mengambil remot yang tergeletak di sofa. Dengan mata masih merah dan wajah yang berukir lipatan sarung bantal, dia duduk menatap kaca pipih di depannya. Dahinya mengernyit, terlihat serius menyimak pidato seorang wanita tambun.
"Alamak! Mati aku!" Bentaknya usai mendengar pidato di tv. Wajahnya gelisah. Patmo yang mendengar suara teriakan sang istri pun penasaran. Perihal apa kiranya yang membuat Patma marah-marah padahal hari masih pagi, kebul kopi pun belum tercium wanginya.
"Kenapa, Yang?"
Patma memberi isyarat dengan matanya, menyuruh Patmo menyimak berita.
"Udah jatuh tempo! Sial betul, kita nggak ngerti apa-apa disuruh bayar hutang. Mana ratusan ribu trilyun pula."
Patmo mengangguk-angguk. "Apa kolam susu berhektar-hektar itu bisa dijual?"
"Nggak laku!" Jawab Patma, pendek. Muka masamnya bertambah masam.
"Kalau susu yang lain?"
"Hush!" Wanita itu mendelik. Patmo tertawa setengah mengejek.
"Susu sapi atau domba gitu." Patmo mengklarifikasi sembari telunjuk tangannya menowel dagu empuk Patma.
"Apalagi itu! Aduh, negara ini bisa dijual. Terus kita diusir. Mati aku! Nggak bisa aku kalau tinggal di London, Pak. Di sana nggak bisa makan sambel pete. Mati aku!"
Patma terisak. Daster yang dia kenakan pun mulai basah. Patmo bingung, bagaimana dia harus menghibur Patma. Dia tahu, istrinya tidak mau makan tanpa sambel pete kesayangannya, apalagi menggantinya dengan waffle. Nggak bisa! Itu sama saja membunuhnya pelan-pelan.
"Lah terus gimana, Yang?"
Tangis Patma semakin pilu. Dengan sesenggukan dia mengoceh membayangkan nasib buruk negara ini. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Patma dan Patmo berpandangan. Sepagi ini pintu rumah mereka diketuk dan yang datang pun sepertinya beberapa orang, banyak malah.
"Paaat..." Terdengar suara orang-orang memanggil.
Patmo dan Patma beranjak dari sofa. Diintipnya dari balik jendela sebelum membuka pintu. Lagi, mereka berpandangan heran. Rupanya tetangga-tetangga mereka sudah berkumpul di depan rumah. Jumlahnya banyak bahkan dari rt sebelah pun ikut.
"Kita ada salah apa ya, Bu?"
Patma melirik Patmo penuh curiga. "Jangan bilang kamu habis melakukan hal tak senonoh pada anak orang, Pak!" Patma melotot, tangannya berkacak pinggang dan hidungnya kembang kempis.
"Nggak." Jawab Patmo sedikit ragu.
Patma memajukan badannya dan matanya semakin melotot keluar membuat nyali Patmo menciut. Dia berusaha mengingat-ingat, kira-kira janda mana yang sudah melaporkannya.
"Pat... Buka pintu." Lagi, terdengar suara tetangga mereka.
Akhirnya Patma mengambil kunci dan membukakan pintu. Matanya tak berhenti mengintai Patmo yang mulai gugup, salah tingkah. Sementara dibalik kantong daster, Patma sudah menyiapkan pisau dapur tertajam miliknya.
"Duuuh, lama sekali kalian ini."
Belum sempat Patma bertanya, para tetangga menyuruhnya segera ikut.
"Kemana?" Patma dan Patmo serentak bertanya.
"Elahhh... masih tanya. Ayo cepetan kita berburu racun kalajengking untuk membayar hutang negara," terang Pak Rt.
Patmo dan Patma pun bergegas mengikuti rombongan itu. Dalam hati Patma merasa lega, akhirnya dia tidak jadi mati karena kekurangan gizi sambal pete. Alhamdulillah.
#ayunurfiyah
NB : fiksi belaka.
PENJAGA TERAKHIR PART 1 (CERBUNG)
PART 1
Pagi yang sama, mendung yang mana bukan penanda hujan akan turun. Shina membuka pintu, diapitnya perkakas kebersihan di kedua tangannya. Dengan hidung tertutup masker hitam, ia mengusir debu dan serakan sampah. Tangannya bergerak lincah.
Selesai satu pekerjaan, dia melanjutkan pekerjaan lainnya; menyiram bunga, mencuci piring dan pakaian kotor, membuat sarapan untuk dia dan Hans serta membaca berita. Ah ya, ada tambahan daftar pekerjaan pagi ini, membawa Hans ke klinik dokter Bimar.
Aaaaaa..
Lagi, Hans mengerang kesakitan. Suaranya parau dan penuh penekanan. Shina menahan air matanya. Tidak tega rasanya mendengar Hans menahan luka separah itu. Tubuhnya penuh luka, entah racun apa yang menyerangnya. Hans lelaki kuat, kalimat itulah yang selalu meyakinkan Shina untuk tetap percaya suaminya akan tetap baik-baik saja.
Aaaaaaa...
Suaranya serak, membuat ngilu hati yang mendengarnya. Wanita itu bergegas membawakan sarapan dan beberapa kapsul terakhir. Langkahnya cepat menaiki satu demi satu anak tangga tetapi tetap dia berhati-hati menjaga keseimbangan. Tangga ini tidak memiliki pagar pembatas di sisinya. Membetulkan tangga bukan pekerjaan yang penting di situasi begini.
Pintu berderit. Hans melengos, selalu begitu. Di sudut hatinya dia marah pada dirinya sendiri. Apa yang dapat diandalkan darinya? Hanya lelaki cacat yang berharap dia mati saja saat itu. Dulu dia menjanjikan kebahagiaan untuk Shina, kekasihnya, sekarang bahkan dia tidak mampu mengurus dirinya.
Hati-hati shina duduk di tepi ranjang. Sesungguhnya, memandangi tubuh Hans yang mirip mumi, dia merasa sakit. Namun, jauh berkali lebih sakit melihat Hans tidak lagi bicara padanya. Tidak ada sapaan hangat, cerita humor yang konyol demi mengusir kesedihan atau dekapan tubuh lelaki itu.
"Aku membuatkan sup jamur dengan campuran kacang dan kentang."
Shina mencoba memecah keheningan. Ingin rasanya dia memaki Hans, meneriaki lelaki yang tidak tahu diri mendiamkannya. Sudah lelah rasanya dia mengatakan pada Hans, tidak ada yang berubah baginya, cintanya tidak pernah menuntut kesempurnaan fisik atau materi apapun. Beku. Hans diam seperti kehilangan kata.
Bulir bening tertahan di ujung manik mantan tentara itu. Shina mengusap pelan ujung jari tengah Hans dengan jari manis, tempat selingkar cincin emas berukir huruf H menggantung.
"Hans, nanti kita akan menemui dokter. Obatmu habis dan perbanmu harus diganti." Tak ada jawaban. Pria itu bergerak sedikit pun tidak. Hanya sepasang ain berbola kecokelatan dengan kelopak bergaris tajam yang semakin basah.
Shina bangkit, membiarkan Hans dengan kekalutan perasaannya sendiri. Lagi pula, suaminya tidak akan mau memakan sup itu dari tangannya. Dulu, dia sangat suka bila Shina memanjakannya, merengek meminta Hans yang sibuk untuk memakan sup buatannya sampai Hans menyerah. Dia akan duduk di depan Shina yang pura-pura marah, membuka mulut dan menunggu kekasihnya menyendokkan makanan.
"Shina..."
Seseorang memanggil setelah menyandarkan kendaraan besi yang melaju dengan bahan bakar panas, air dan angin. Seorang wanita tua dengan tudung kepala yang diikat asal mengetuk. Shina membukakan pintu dan segera menghambur ke pelukan Sarah. Gadis itu menjatuhkan keranjang berisi bahan pangan di lantai, membiarkan tubuh Shina jatuh dalam pelukannya. Kehadiran Sarah selalu berarti, bendungan air mata Shina seakan menemukan jalannya di bahu Sarah, kakak sepupu Hans. Puas dia menangis.
"Apa belum ada perkembangan?" tanya Sarah dengan suara pelan. Pertanyaan yang dia sudah tahu jawabannya. Shina menggeleng lemah dan menghapus habis air yang tadi dibiarkannya mengalir begitu saja.
"Kamu harus kuat," dahi Sarah tertekuk, "aku dengar negara adidaya sudah kewalahan, kemungkinan mereka akan membuat semacam kompromi dengan makhluk asing itu. Semoga pada akhirnya kehidupan kembali penuh damai dan mereka lekas pulang ke tempatnya. Semoga." Sarah memberi penekanan pada kata terakhir dengan mata terpejam dan sungguh-sungguh dari hatinya.
Doa yang sama dipanjatkan pula oleh Shina. Tidak ada yang menginginkan ini. Hidup dalam ketakutan. Menyerah atau melawan rasanya sama-sama melelahkan. Namun, bagi Shina, dia tidak pernah ragu untuk tetap bertahan, bahkan semisal dunia ini memilih menyerah.
Tangan Sarah mengelus lengan sepupu iparnya, memberi kekuatan. "Pimpinan Rusia kudengar sudah menyerah. Terakhir kulihat matanya memang sudah bercahaya." Suara Sarah berbisik dengan raut sedih yang tak mampu disembunyikannya.
Mata bercahaya adalah sebuah tanda jika seseorang sudah takluk. Entah bagaimana tetapi mata mereka selalu begitu, tidak lagi tampak kelopak dan bola mata berwarna. Mata itu seperti kosong dengan cahaya putih terang berpendar. Jika sudah begitu, tidak kau temukan lagi gelak tawa, hanya ada tubuh kaku yang seolah kehilangan ruhnya.
Shina menghela nafas. Entah sampai kapan ini semua berakhir. Bagaimana mungkin manusia bisa seceroboh itu membiarkan lapisan ozon bumi rusak parah, menjadi gerbang pertama makhluk asing datang. Terakhir, penerbitan satelit super elit yang mereka wacanakan sebagai peradaban baru. Nyatanya, justru mengundang musuh, makhluk-makhluk lain yang juga berakal dengan mata seperti cahaya lampu.
Satelit itu, sudah lama generasi Shina mengenalnya. Sejak kecil. Media mengatakan dunia tidak akan kekurangan lahan lagi. Semua benda dapat dengan mudah disimpan menjadi data dan kembali menjadi benda, manusia melakukan perjalanan tanpa transportasi, mereka seperti menghilang.
Shina masih ingat, di tengah kota tempat tinggalnya dia melihat kotak yang akan menjadi semacam halte tujuan. Manusia akan tiba-tiba muncul disana jika tujuan mereka ke kota ini. Kotak yang sangat ajaib, pikirnya dulu.
Peradaban bullshit! Shina memaki dalam hati. Apa yang dia lihat kini hanya langit kelabu, udara yang asam dan tanah yang mengeras, gersang. Beberapa orang mulai mencari kunci peradaban yang hilang, Hans dan Shina salah duanya. Mereka ikut terlibat dalam proyek itu tapi Hans tiba-tiba memilih jalan lain.
Dia ikut bertempur, tanpa memperhitungkan kekuatan musuh. Nalurinya sebagai tentara memanggilnya, dia tidak peduli sikap Shina yang menentang. Beruntung atau justru sial, Hans selamat dan dia adalah satu-satunya yang selamat dalam insiden pemberontakan itu.
Ngguuuuung.....
Terdengar suara dengungan keras dan bau yang menyengat. Shina dan Sarah bertatapan. Pulau ini terdeteksi. Wajah mereka pias. Sarah segera mengenakan masker begitu juga Shina. Ada riuh tangis dan ketakutan terdengar. Mereka menghambur keluar dengan tergopoh. Tangan Sarah gemetar, dia menjerit seperti jeritan orang-orang itu. Shina terdiam, mematung. Bulir-bulir air matanya jatuh, dilihatnya benda pipih sangat besar melayang di atas sana. Dia merasa linglung. Sarah menarik tangan Shina kasar.
"Lari! Lari!" Sarah berteriak.
Mereka bersama manusia lainnya ikut berlari menuju bangker. Semakin lama suara dengungan semakin keras, tampak sesuatu menyala di atas sana. Tiba-tiba langkah Shina berhenti. Dia teringat Hans. Sarah yang menyadari hal itu, cepat-cepat meraih tangan Shina. Wanita itu menangkis.
"Hans!" Shina menangis.
"Tidak ada waktu!" Bentak Sarah.
Shina berlari kembali menuju rumahnya. Sarah menyerah. Dia membiarkan Shina pergi. Air mata menetes lolos dari kedua manik Shina. Takut, cemas dan marah menjadi satu. Bayangan-bayangan kebersamaannya bersama Hans seperti berputar-putar di kepala tanpa sedetik pun jeda. Dia ketakutan, takut sesuatu yang buruk terjadi pada prianya.
Tubuh Shina bertabrakan dengan orang yang lari berlawanan arah. Tak ada yang peduli. Shina terus berlari sekuat tenaganya hingga tiba-tiba tubuhnya limbung, dia merasa sangat pusing. Wanita itu jatuh berlutut, perlahan pandangannya mulai kabur. Kepalanya terasa berat.
Bayangan wajah Hans masih tergambar jelas, ketika sebuah tangan menarik pundaknya. Pandangan Shina semakin kabur. Dia melihat seseorang.
"Hanss...!"
***bersambung***
#AyuNurfiyah
Pagi yang sama, mendung yang mana bukan penanda hujan akan turun. Shina membuka pintu, diapitnya perkakas kebersihan di kedua tangannya. Dengan hidung tertutup masker hitam, ia mengusir debu dan serakan sampah. Tangannya bergerak lincah.
Selesai satu pekerjaan, dia melanjutkan pekerjaan lainnya; menyiram bunga, mencuci piring dan pakaian kotor, membuat sarapan untuk dia dan Hans serta membaca berita. Ah ya, ada tambahan daftar pekerjaan pagi ini, membawa Hans ke klinik dokter Bimar.
Aaaaaa..
Lagi, Hans mengerang kesakitan. Suaranya parau dan penuh penekanan. Shina menahan air matanya. Tidak tega rasanya mendengar Hans menahan luka separah itu. Tubuhnya penuh luka, entah racun apa yang menyerangnya. Hans lelaki kuat, kalimat itulah yang selalu meyakinkan Shina untuk tetap percaya suaminya akan tetap baik-baik saja.
Aaaaaaa...
Suaranya serak, membuat ngilu hati yang mendengarnya. Wanita itu bergegas membawakan sarapan dan beberapa kapsul terakhir. Langkahnya cepat menaiki satu demi satu anak tangga tetapi tetap dia berhati-hati menjaga keseimbangan. Tangga ini tidak memiliki pagar pembatas di sisinya. Membetulkan tangga bukan pekerjaan yang penting di situasi begini.
Pintu berderit. Hans melengos, selalu begitu. Di sudut hatinya dia marah pada dirinya sendiri. Apa yang dapat diandalkan darinya? Hanya lelaki cacat yang berharap dia mati saja saat itu. Dulu dia menjanjikan kebahagiaan untuk Shina, kekasihnya, sekarang bahkan dia tidak mampu mengurus dirinya.
Hati-hati shina duduk di tepi ranjang. Sesungguhnya, memandangi tubuh Hans yang mirip mumi, dia merasa sakit. Namun, jauh berkali lebih sakit melihat Hans tidak lagi bicara padanya. Tidak ada sapaan hangat, cerita humor yang konyol demi mengusir kesedihan atau dekapan tubuh lelaki itu.
"Aku membuatkan sup jamur dengan campuran kacang dan kentang."
Shina mencoba memecah keheningan. Ingin rasanya dia memaki Hans, meneriaki lelaki yang tidak tahu diri mendiamkannya. Sudah lelah rasanya dia mengatakan pada Hans, tidak ada yang berubah baginya, cintanya tidak pernah menuntut kesempurnaan fisik atau materi apapun. Beku. Hans diam seperti kehilangan kata.
Bulir bening tertahan di ujung manik mantan tentara itu. Shina mengusap pelan ujung jari tengah Hans dengan jari manis, tempat selingkar cincin emas berukir huruf H menggantung.
"Hans, nanti kita akan menemui dokter. Obatmu habis dan perbanmu harus diganti." Tak ada jawaban. Pria itu bergerak sedikit pun tidak. Hanya sepasang ain berbola kecokelatan dengan kelopak bergaris tajam yang semakin basah.
Shina bangkit, membiarkan Hans dengan kekalutan perasaannya sendiri. Lagi pula, suaminya tidak akan mau memakan sup itu dari tangannya. Dulu, dia sangat suka bila Shina memanjakannya, merengek meminta Hans yang sibuk untuk memakan sup buatannya sampai Hans menyerah. Dia akan duduk di depan Shina yang pura-pura marah, membuka mulut dan menunggu kekasihnya menyendokkan makanan.
"Shina..."
Seseorang memanggil setelah menyandarkan kendaraan besi yang melaju dengan bahan bakar panas, air dan angin. Seorang wanita tua dengan tudung kepala yang diikat asal mengetuk. Shina membukakan pintu dan segera menghambur ke pelukan Sarah. Gadis itu menjatuhkan keranjang berisi bahan pangan di lantai, membiarkan tubuh Shina jatuh dalam pelukannya. Kehadiran Sarah selalu berarti, bendungan air mata Shina seakan menemukan jalannya di bahu Sarah, kakak sepupu Hans. Puas dia menangis.
"Apa belum ada perkembangan?" tanya Sarah dengan suara pelan. Pertanyaan yang dia sudah tahu jawabannya. Shina menggeleng lemah dan menghapus habis air yang tadi dibiarkannya mengalir begitu saja.
"Kamu harus kuat," dahi Sarah tertekuk, "aku dengar negara adidaya sudah kewalahan, kemungkinan mereka akan membuat semacam kompromi dengan makhluk asing itu. Semoga pada akhirnya kehidupan kembali penuh damai dan mereka lekas pulang ke tempatnya. Semoga." Sarah memberi penekanan pada kata terakhir dengan mata terpejam dan sungguh-sungguh dari hatinya.
Doa yang sama dipanjatkan pula oleh Shina. Tidak ada yang menginginkan ini. Hidup dalam ketakutan. Menyerah atau melawan rasanya sama-sama melelahkan. Namun, bagi Shina, dia tidak pernah ragu untuk tetap bertahan, bahkan semisal dunia ini memilih menyerah.
Tangan Sarah mengelus lengan sepupu iparnya, memberi kekuatan. "Pimpinan Rusia kudengar sudah menyerah. Terakhir kulihat matanya memang sudah bercahaya." Suara Sarah berbisik dengan raut sedih yang tak mampu disembunyikannya.
Mata bercahaya adalah sebuah tanda jika seseorang sudah takluk. Entah bagaimana tetapi mata mereka selalu begitu, tidak lagi tampak kelopak dan bola mata berwarna. Mata itu seperti kosong dengan cahaya putih terang berpendar. Jika sudah begitu, tidak kau temukan lagi gelak tawa, hanya ada tubuh kaku yang seolah kehilangan ruhnya.
Shina menghela nafas. Entah sampai kapan ini semua berakhir. Bagaimana mungkin manusia bisa seceroboh itu membiarkan lapisan ozon bumi rusak parah, menjadi gerbang pertama makhluk asing datang. Terakhir, penerbitan satelit super elit yang mereka wacanakan sebagai peradaban baru. Nyatanya, justru mengundang musuh, makhluk-makhluk lain yang juga berakal dengan mata seperti cahaya lampu.
Satelit itu, sudah lama generasi Shina mengenalnya. Sejak kecil. Media mengatakan dunia tidak akan kekurangan lahan lagi. Semua benda dapat dengan mudah disimpan menjadi data dan kembali menjadi benda, manusia melakukan perjalanan tanpa transportasi, mereka seperti menghilang.
Shina masih ingat, di tengah kota tempat tinggalnya dia melihat kotak yang akan menjadi semacam halte tujuan. Manusia akan tiba-tiba muncul disana jika tujuan mereka ke kota ini. Kotak yang sangat ajaib, pikirnya dulu.
Peradaban bullshit! Shina memaki dalam hati. Apa yang dia lihat kini hanya langit kelabu, udara yang asam dan tanah yang mengeras, gersang. Beberapa orang mulai mencari kunci peradaban yang hilang, Hans dan Shina salah duanya. Mereka ikut terlibat dalam proyek itu tapi Hans tiba-tiba memilih jalan lain.
Dia ikut bertempur, tanpa memperhitungkan kekuatan musuh. Nalurinya sebagai tentara memanggilnya, dia tidak peduli sikap Shina yang menentang. Beruntung atau justru sial, Hans selamat dan dia adalah satu-satunya yang selamat dalam insiden pemberontakan itu.
Ngguuuuung.....
Terdengar suara dengungan keras dan bau yang menyengat. Shina dan Sarah bertatapan. Pulau ini terdeteksi. Wajah mereka pias. Sarah segera mengenakan masker begitu juga Shina. Ada riuh tangis dan ketakutan terdengar. Mereka menghambur keluar dengan tergopoh. Tangan Sarah gemetar, dia menjerit seperti jeritan orang-orang itu. Shina terdiam, mematung. Bulir-bulir air matanya jatuh, dilihatnya benda pipih sangat besar melayang di atas sana. Dia merasa linglung. Sarah menarik tangan Shina kasar.
"Lari! Lari!" Sarah berteriak.
Mereka bersama manusia lainnya ikut berlari menuju bangker. Semakin lama suara dengungan semakin keras, tampak sesuatu menyala di atas sana. Tiba-tiba langkah Shina berhenti. Dia teringat Hans. Sarah yang menyadari hal itu, cepat-cepat meraih tangan Shina. Wanita itu menangkis.
"Hans!" Shina menangis.
"Tidak ada waktu!" Bentak Sarah.
Shina berlari kembali menuju rumahnya. Sarah menyerah. Dia membiarkan Shina pergi. Air mata menetes lolos dari kedua manik Shina. Takut, cemas dan marah menjadi satu. Bayangan-bayangan kebersamaannya bersama Hans seperti berputar-putar di kepala tanpa sedetik pun jeda. Dia ketakutan, takut sesuatu yang buruk terjadi pada prianya.
Tubuh Shina bertabrakan dengan orang yang lari berlawanan arah. Tak ada yang peduli. Shina terus berlari sekuat tenaganya hingga tiba-tiba tubuhnya limbung, dia merasa sangat pusing. Wanita itu jatuh berlutut, perlahan pandangannya mulai kabur. Kepalanya terasa berat.
Bayangan wajah Hans masih tergambar jelas, ketika sebuah tangan menarik pundaknya. Pandangan Shina semakin kabur. Dia melihat seseorang.
"Hanss...!"
***bersambung***
#AyuNurfiyah
DRAMA MENYAPIH
Sebagai seorang ibu, saya juga ingin mempersembahkan yang terbaik untuk anak. Termasuk asi selama dua tahun. Kalau dulu, masalahnya adalah mengajarkan bocah gimana cara menghisap asi, sekarang masalahnya how to stop it. Hua hua ... susah, asli! Lebih susah dari harus melek tengah malem, duduk sambil nyusuin bocah. Kenapa? Karena dulu ribet untuk memberi, sedangkan menyapih itu untuk mengambil. Trust me!! Nggak tega tapi harus. Biar gimanapun, dia harus belajar! Semangat, Nak. Kamu juarak! Ahirnya berhasil sapih di usia 23 bulan lebih berapa hari ya? hmm hmm lupa. -_-
Nggak masalah lah lupa tanggal sukses sapihnya, yang penting nggak lupa mau berbagi tips menyapih ala saya. Hehehee... Ok, here we go!!
Jauh sebelum Arte, genap 2 tahun, sekira 1 tahunan, saya mulai sering melakukan sounding bahwa nanti kalau dia sudah dua tahun dia harus berhenti menyusu. Saya tahu dia paham karena ekspresinya berubah tiap saya mengatakan itu. Ritual sounding ini lebih intens saat usianya hampir dua.
Berhubung saya belum menemukan sinyal ikhlas dari si bocah, jadilah saya memulai prosesnya dengan step by step. Saya kurangi masa menyusuinya. Mulanya, pagi dan siang dia tidak boleh menyusu. Anaknya nurut? Ya jelas demo! Untungnya kalau siang dia lebih mudah dialihkan. jadi setiap dia minta saya alihkan. Misalnya, tawarkan cemilan kesukaannya, mainan kesukaan, baca buku, berendem di bak siang-siang -_-, nonton didi and friends, dsb. Intinya pinter-pinternya kita mengalihkan. Inget ya, selama proses ini tetap ingatkan dia kalau siang hari bukan waktunya menyusu karena dia sudah dua tahun.
Oya, catatan penting ya mak. Selama proses sapih jangaaaan pernah memakai baju yang berritsleting depan atau berkerah rendah. Intinya jangan sampai dia melihat dan mengingatkannya untuk menyusu. Kalau bisa pakai baju yang susah dibuka bagian dadanya deh.
Masuk usia 23 bulan, saya sudah gusar. Ya, karena sudah mulai diprotes mbah-mbahnya, kenapa bocah masih menyusu? Kenapa tidak pakai senjata seperti dioles sesuatu yang pahit, dikasih merah-merah, dsb. Hmm, bukan nggak mau sih tetapi aku percaya proses. Nggak suka cara-cara instan. *Belagak wow, wkwkwk.
Biar nyesek tapi protes dari para mbah-mbah ada baiknya juga. Buktinya saya langsung eksekusi menyapih utuh 24 jam. -_- tapi dramanya lebih. Kalau siang, bocah bisa dialihkan dengan hal lain, saat tidur pun lebih mudah (entah kenapa), sedangkan waktu malam mau dialihkan bagaimana? i have no idea hua huaaaa.
Jadilah saya coba menggendong, mengayun, memijat, mengusap dan menepuk-nepuk si bocah yang kekeh berontak. Jam tidur pun jadi super kacau. Malam tidur jam 12 malam, bangun jam 8 pagi dan tidur siang bergeser jadi tidur sore. Tapi itu nggak seberapa lelahnya dibandingkan dengerin dia demo demi emaknya luluh. Nangis tiap malem disuruh tidur. Ya Allahhh.... Sampai saya doa khusus biar dia ikhlas disapih.
Finally, Allah beri petunjuk. Saya lupa baca blog siapa. Intinya libatkan suami. Ahirnya malam hari si bocah tidur sama suami. Dua malam berhasil lalu dicoba tidur dengan saya dan berhasil. :) Etapiiii, hari berikutnya doi demo lagi. -_- Digendong, diapain nggak mempan.
And.... Saya menyadari mungkin saya sendiri belum ikhlas. Btw, menyusui itu nggak cuma nyaman buat bocah loh, buat emaknya juga. Mungkin saya juga belum seratus persen rela kehilangan rasa nyaman itu. Jadi, saya coba ikhlas dulu, mulai memikirkan manfaat disapih untuk dia. Fokus kesana.
Saya juga menyadari bahwa untuk membuat dia ikhlas kita mengambil "zona ternyaman"nya adalah dengan menukar dengan hal lain yang sama nyamannya. Jadi, saya putuskan untuk berusaha menunjukan bahwa i still love you, and will always do. Lebih perhatian, jarangin buka gadget sambil terus sounding bahwa saya sayang kamu dan tetap bersama kamu, yang berbeda hanya kamu tidak lagi emeh.
:)
Buat pejuang sapih, semoga berhasil dan semangat berproses. Percaya saja, ini bagian dari mengajarinya ikhlas, berjuang keluar dari zona nyaman dan mengajari anak percaya pada kita, orang tuanya khushushan emaknya. :p
Rabu, 11 Oktober 2017
Hamil Pertamaku
Pengalaman hamil memang pengalaman yang unik. Ada sebagaian wanita yang begitu mudah dan sangat fun menjalani proses kehamilannya hingga melahirkan. Tapi tidak semua wanita mengalami itu. Membandingkan satu pengalaman hamil hingga melahirkan antara wanita yang satu dengan lainnya adalah perbuatan tidak etis. Apa kuasa orang lain jika semuanya terikat pada kehendakNya, bukan? Proses panjang, hampir 10 bulan dalam hitungan kalender masehi (hitungan kalender medis 1 bulan 28 hari saja) saya mengandung anak pertama saya. Pengalaman yang akan saya coba bagi di laman ini.
Jauh beberapa bulan sebelum saya hamil, saya sering over ge-er karena sering mengira saya hamil. Entah berapa puluh testpack yang sudah saya beli, sering kali saya tes sehari sekali asal sudah telat sehari atau saya merasa mual saja (mohon maklum) pasti saya tes. Intinya ada sedikit saja kemungkinan pasti saya tes. Pernah bahkan saya telat beberapa minggu, saya tes berkali-kali denan hasil negatif tapi karena tidak juga datang bulan saya memeriksakan diri ke dokter umum. Dinyatakan tidak hamil, saya pindah ke bidan (saking kekeh yakin kalau hamil) dan lagi-lagi jawabannya sama. Akhirnya saya memilih ke dsog (rujukan beberapa teman saya yang puas dengan pelayanan klinik tersebut) dan disana saya di tespeck lagi dengan hasil yang sama saja. Negatif. Dokter kemudian memeriksa dengan USG yang hasilnya memang benar-benar tidak hamil, semua normal hanya masalah hormonal. Saya tidak kecewa, minimal saya jadi tahu dengan haqqul yakin kalau saya memang tidak hamil hehehe. Jujur bukan masalah hamil tapi masalahnya saya tidak tenang dan otak saya, saya paksa berfikir saya hamil hahaha.. ini yang susah.
Dokter kemudian meresepkan tablet untuk saya konsumsi untuk mengatur hormon saya. Tablet ini juga berfungsi mengembalikan siklus menstruasi dengan target kunjungan tiga bulan, dengan satu kali kunjungan per bulan. Oke, saya cukup lega. Dan di kunjungan terahir saya memilih tidak datang. Hehehe saya merasa sudah tidak perlu karena selain jauh antriannya super. Sering saya tinggal makan di luar, ngobrol ngalor ngidul nongkrong di pinggir jalan sama suami ber jam-jam karena kalau pulang jaraknya lumayan jauh.
Sekitar pertengahan Februari, sekitar satu bulanan dari terahir kunjungan ke dokter suami saya merasa saya lebih aneh. Ya, biasanya memang saya suka aneh (versi suami) tapi kali ini lebih. Saya sangat super mudah tersinggung bahkan terkesan cari-cari masalah dan semua serba salah. Saya kesal pada banyak hal, barang kali persis tantrumnya anak kecil. Tidak tahu apa yang dirinya sendiri mau dan berasa ingin mengamuk karena tidak ada solusi. Parahnya, suami bahkan sempat merasa salah pilih istri atau istrinya sudah gila mendadak. Gila yang benar-benar gila. Emosi yang cepat sekali berubah dari tertawa jadi marah jadi menangis.
Sampai ahirnya, suami entah iseng atau memang mulai sadar, dia menduga saya hamil. Padahal saya sama sekali tidak merasa ada gejala aneh (versi saya waktu itu) pun belum telat datang bulan. Tapi karena penasaran, saya iseng beli testpack. Sengaja memilih yang harganya paling murah dan cuma satu biji sebab saya saat itu berkeyakinan saya tidak hamil. Saya hanya lebih sering marah saja dan itu gangguan hormon (maaf ya hormon, kamu sering sekali jadi kambing hitam).
Keesokan harinya, saya buru-buru test. Biar bagaimanapun tetap ada rasa penasaran juga. Pagi itu saya mengamati indikator tes dan saya merasa linglung. Saya bingung karena ada dua garis di sana. Beberapa saat saya amati dan memang benar ada dua garis. Masih dengan emosi yang datar dan justru tidak yakin, saya memberitahu suami yang baru bangun. Dia melihat sekilas saja dan sama seperti saya, ekspresinya datar. Tidak ada teriakan senang atau pelukan atau seremonial apalah. Suami hanya menyarankan untuk bertanya pada Dsog lewat pesan Whatsapp (kebetulan di klinik tersebut, dsog membagikan kontak person pada semua pasien). Semua benar-benar berjalan begitu biasa saja seolah-olah hasil tes pagi itu hanyalah berita biasa bagi kami. Setelah menuruti saran suami, dokter membalas beberapa jam kemudian dan mengiyakan bahwa hasilnya saya hamil dan diminta segera memeriksakan diri. Kami pun akhirnya datang ke klinik beberapa hari kemudian. Benar-benar datar hehehe. Tapi kami tetap bersyukur dan mulai bingung karena itu artinya kami harus mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut bayi yang mana kami sama-sama nol pengetahuan tentang itu.
Pengalaman kehamilan saya pun berjalan dengan beberapa permasalahan, mulai dari flek, pendarahan, sungsang hingga akhirnya kami memutuskan proses kelahiran secara sectio cesaria. Saya akan membagikan pengalaman masa-masa itu pada artikel berikutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)