Rabu, 11 Oktober 2017

Hamil Pertamaku


Pengalaman hamil memang pengalaman yang unik. Ada sebagaian wanita yang begitu mudah dan sangat fun menjalani proses kehamilannya hingga melahirkan. Tapi tidak semua wanita mengalami itu. Membandingkan satu pengalaman hamil hingga melahirkan antara wanita yang satu dengan lainnya adalah perbuatan tidak etis. Apa kuasa orang lain jika semuanya terikat pada kehendakNya, bukan? Proses panjang, hampir 10 bulan dalam hitungan kalender masehi (hitungan kalender medis 1 bulan 28 hari saja) saya mengandung anak pertama saya. Pengalaman yang akan saya coba bagi di laman ini.
Jauh beberapa bulan sebelum saya hamil, saya sering over ge-er karena sering mengira saya hamil. Entah berapa puluh testpack yang sudah saya beli, sering kali saya tes sehari sekali asal sudah telat sehari atau saya merasa mual saja (mohon maklum) pasti saya tes. Intinya ada sedikit saja kemungkinan pasti saya tes. Pernah bahkan saya telat beberapa minggu, saya tes berkali-kali denan hasil negatif tapi karena tidak juga datang bulan saya memeriksakan diri ke dokter umum. Dinyatakan tidak hamil, saya pindah ke bidan (saking kekeh yakin kalau hamil) dan lagi-lagi jawabannya sama. Akhirnya saya memilih ke dsog (rujukan beberapa teman saya yang puas dengan pelayanan klinik tersebut) dan disana saya di tespeck lagi dengan hasil yang sama saja. Negatif. Dokter kemudian memeriksa dengan USG yang hasilnya memang benar-benar tidak hamil, semua normal hanya masalah hormonal. Saya tidak kecewa, minimal saya jadi tahu dengan haqqul yakin kalau saya memang tidak hamil hehehe. Jujur bukan masalah hamil tapi masalahnya saya tidak tenang dan otak saya, saya paksa berfikir saya hamil hahaha.. ini yang susah.
Dokter kemudian meresepkan tablet untuk saya konsumsi untuk mengatur hormon saya. Tablet ini juga berfungsi mengembalikan siklus menstruasi dengan target kunjungan tiga bulan, dengan satu kali kunjungan per bulan. Oke, saya cukup lega. Dan di kunjungan terahir saya memilih tidak datang. Hehehe saya merasa sudah tidak perlu karena selain jauh antriannya super. Sering saya tinggal makan di luar, ngobrol ngalor ngidul nongkrong di pinggir jalan sama suami ber jam-jam karena kalau pulang jaraknya lumayan jauh.
Sekitar pertengahan Februari, sekitar satu bulanan dari terahir kunjungan ke dokter suami saya merasa saya lebih aneh. Ya, biasanya memang saya suka aneh (versi suami) tapi kali ini lebih. Saya sangat super mudah tersinggung bahkan terkesan cari-cari masalah dan semua serba salah. Saya kesal pada banyak hal, barang kali persis tantrumnya anak kecil. Tidak tahu apa yang dirinya sendiri mau dan berasa ingin mengamuk karena tidak ada solusi. Parahnya, suami bahkan sempat merasa salah pilih istri atau istrinya sudah gila mendadak. Gila yang benar-benar gila. Emosi yang cepat sekali berubah dari tertawa jadi marah jadi menangis. 
Sampai ahirnya, suami entah iseng atau memang mulai sadar, dia menduga saya hamil. Padahal saya sama sekali tidak merasa ada gejala aneh (versi saya waktu itu) pun belum telat datang bulan. Tapi karena penasaran, saya iseng beli testpack. Sengaja memilih yang harganya paling murah dan cuma satu biji sebab saya saat itu berkeyakinan saya tidak hamil. Saya hanya lebih sering marah saja dan itu gangguan hormon (maaf ya hormon, kamu sering sekali jadi kambing hitam).
Keesokan harinya, saya buru-buru test. Biar bagaimanapun tetap ada rasa penasaran juga. Pagi itu saya mengamati indikator tes dan saya merasa linglung. Saya bingung karena ada dua garis di sana. Beberapa saat saya amati dan memang benar ada dua garis. Masih dengan emosi yang datar dan justru tidak yakin, saya memberitahu suami yang baru bangun. Dia melihat sekilas saja dan sama seperti saya, ekspresinya datar. Tidak ada teriakan senang atau pelukan atau seremonial apalah. Suami hanya menyarankan untuk bertanya pada Dsog lewat pesan Whatsapp (kebetulan di klinik tersebut, dsog membagikan kontak person pada semua pasien). Semua benar-benar berjalan begitu biasa saja seolah-olah hasil tes pagi itu hanyalah berita biasa bagi kami. Setelah menuruti saran suami, dokter membalas beberapa jam kemudian dan mengiyakan bahwa hasilnya saya hamil dan diminta segera memeriksakan diri. Kami pun akhirnya datang ke klinik beberapa hari kemudian. Benar-benar datar hehehe. Tapi kami tetap bersyukur dan mulai bingung karena itu artinya kami harus mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut bayi yang mana kami sama-sama nol pengetahuan tentang itu.
Pengalaman kehamilan saya pun berjalan dengan beberapa permasalahan, mulai dari flek, pendarahan, sungsang hingga akhirnya kami memutuskan proses kelahiran secara sectio cesaria. Saya akan membagikan pengalaman masa-masa itu pada artikel berikutnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar